🙋🏻 Pertanyaan Minggu Lalu

Saya coba jawab pertanyaan kalian yang ada di Exit Ticket ya…


🧠 Apersepsi

Starter nih, sebelum kita ngobrolin lebih dalem tentang materi hari ini, guys..

<aside> 🔥

Bayangkan kamu lagi asyik ngopi di kantin bareng sirkel BEM-mu. Kamu ngobrol santai pakai bahasa campur-campur: "Ana kemaren telat banget masuk kelas Nahwu, dosennya udah natep tajam, kena mental deh gue."

Tiba-tiba, Ketua Jurusan ikut duduk di meja kalian. Secara otomatis, tanpa disuruh, tulang punggungmu tegak dan gaya bahasamu langsung berubah 180 derajat menjadi: "Selamat siang, Bapak. Mohon maaf, apakah ada arahan untuk acara seminar jurusan minggu depan?"

Kenapa kamu merasa "wajib" untuk langsung menukar style bahasamu begitu ada orang dengan status sosial berbeda masuk ke dalam kelompokmu?

Dari mana kamu belajar "aturan tak tertulis" kapan harus pakai bahasa yang rumit (resmi) dan kapan cukup pakai bahasa yang simple (santai)?

Fenomena "ganti setting bahasa" secara real-time ini membuktikan bahwa kita adalah bagian dari sebuah masyarakat tutur yang punya norma bersama, dan masing-masing dari kita dibekali semacam "koper" berisi ragam bahasa yang kita sesuaikan dengan kelas sosial dan situasi. Yuk, kita bedah teorinya!

</aside>


🗝️ Konsep Kunci